← Kembali
tech

5 AI Tools yang Saya Pakai Setiap Hari

Dari writing assistant sampai code helper — ini tools AI yang benar-benar masuk ke workflow harian saya dan alasan kenapa saya tetap pakai mereka.

Hilmi Abthahey · · 3 menit baca

Banyak yang nanya soal workflow saya. Dan jujur, sebagian besar jawabannya berakhir ke satu tema: AI tools.

Bukan karena saya fanboy teknologi baru. Tapi karena beberapa tool ini benar-benar mengubah cara saya kerja — bukan sekadar sedikit lebih cepat, tapi secara fundamental berbeda.

Ini 5 yang paling sering saya buka setiap hari.

1. Claude (Anthropic)

Saya pakai Claude untuk berpikir, bukan hanya untuk menjawab pertanyaan. Ada perbedaan besar di sana.

Ketika saya stuck di sebuah ide, saya buka Claude dan mulai “ngobrol” soal masalahnya. Bukan langsung minta jawaban — tapi explore dulu. Hasilnya sering jauh lebih baik dari yang saya bayangkan sendiri.

Untuk writing, Claude juga jarang menghasilkan teks yang langsung saya copy-paste. Saya lebih sering pakai outputnya sebagai draft kasar yang kemudian saya revisi dengan suara sendiri.

2. Cursor (AI Code Editor)

Kalau kamu nulis kode, Cursor adalah upgrade besar dari VS Code biasa. Bukan karena fiturnya beda total, tapi karena AI-nya terintegrasi dengan cara yang masuk akal.

Saya bisa ngobrol soal codebase saya langsung dari editor, minta refactor bagian tertentu, atau minta penjelasan kenapa sebuah fungsi tidak bekerja seperti yang diharapkan.

Untuk proyek web seperti website ini, Cursor sangat membantu terutama saat saya perlu debug atau buat komponen baru dengan cepat.

3. Perplexity

Saya pakai Perplexity sebagai pengganti Google untuk riset awal. Perbedaan utamanya: Perplexity memberikan ringkasan dengan sumber, bukan daftar link yang harus saya buka satu per satu.

Cocok untuk pertanyaan yang butuh jawaban cepat dengan konteks — misalnya “apa perbedaan antara X dan Y framework” atau “apa rekomendasi tool untuk Z use case”.

Untuk riset yang lebih dalam, saya tetap buka sumbernya langsung. Tapi untuk starting point, Perplexity jauh lebih efisien.

4. Notion AI

Notion saya sudah jadi pusat pengelolaan proyek, catatan, dan ide. Dengan Notion AI, saya bisa summarize halaman panjang, generate outline dari ide acak, atau minta AI untuk mengisi template tertentu.

Yang paling sering saya pakai: bikin draft outline artikel dari bullet points berantakan yang saya tulis saat ide datang tiba-tiba.

5. ElevenLabs (untuk eksperimen)

Ini yang paling experimental. Saya pakai ElevenLabs untuk main-main dengan voice cloning dan text-to-speech untuk proyek-proyek kecil.

Belum masuk ke workflow utama, tapi sudah beberapa kali berguna untuk buat demo cepat tanpa harus rekam suara sendiri.


Yang menarik dari semua tools ini adalah satu hal yang sama: mereka semua bekerja paling baik ketika kamu tahu apa yang kamu cari. AI tools bukan pengganti ide — mereka amplifier dari ide yang sudah ada.

Saya akan terus eksplor dan update list ini kalau ada yang masuk atau keluar dari workflow harian.